Harga minyak dunia kembali melonjak tajam setelah ketegangan di Timur Tengah memicu gangguan distribusi energi global. Harga minyak mentah WTI bahkan mencapai 111,54 dolar per barel, level tertinggi sejak 2022.
Lonjakan ini tidak lepas dari situasi di Selat Hormuz, jalur vital yang dilewati sekitar 20% pasokan minyak dunia. Ketegangan yang melibatkan Iran membuat jalur ini sempat terganggu, sehingga memicu kekhawatiran besar di pasar global.
Menanggapi situasi tersebut, delapan negara anggota OPEC+ termasuk Arab Saudi, Irak, dan Uni Emirat Arab langsung menggelar pertemuan darurat. Hasilnya, mereka sepakat untuk meningkatkan produksi minyak sebesar 206 ribu barel per hari mulai Mei.
Langkah ini bukan sekadar peningkatan produksi biasa, tetapi juga sinyal kuat kepada pasar bahwa pasokan akan segera ditingkatkan jika distribusi kembali normal.
Namun, situasi di lapangan masih belum stabil. Iran belum sepenuhnya membuka akses Selat Hormuz, sehingga risiko gangguan suplai tetap tinggi. Negara-negara pengimpor energi seperti Jepang dan negara-negara Asia lainnya kini berada dalam posisi waspada.
Para analis memperkirakan, jika ketegangan terus berlanjut, harga minyak berpotensi naik lebih tinggi dan berdampak langsung pada harga bahan bakar serta inflasi global.
Krisis ini kembali menegaskan bahwa stabilitas geopolitik di Timur Tengah memiliki dampak besar terhadap ekonomi dunia.


コメント