Sebuah kisah menyentuh datang dari Jepang, ketika seorang mantan kepala sekolah, Takao Terauchi, menerima surat dari seorang siswi pada hari kelulusannya. Surat tersebut mengubah cara pandangnya sebagai seorang pendidik.
Selama bertahun-tahun, ia sering berpidato di depan siswa, namun selalu bertanya dalam hati apakah kata-katanya benar-benar didengar. Hingga suatu hari, seorang siswi datang dan berbincang dengannya selama dua jam, lalu memberikan surat sebagai kenang-kenangan.
Dalam surat itu, siswi tersebut menulis bahwa ia sangat menghargai sikap kepala sekolah yang selalu memuji siswa tanpa pernah marah. Hal kecil seperti membuat “boneka penangkal hujan” pun ternyata diingat oleh siswanya.
Membaca surat itu, ia tak kuasa menahan air mata. Ia menyadari bahwa kata-katanya benar-benar sampai ke hati siswa. Sejak saat itu, ia mengubah cara berbicara—lebih fokus kepada setiap individu, bukan hanya kepada kerumunan.
Kini, ia mengajar calon guru di universitas dan terus menyampaikan pesan penting: selalu ada momen di mana hati guru dan murid saling terhubung.
Apakah kamu memiliki surat yang berharga dalam hidupmu?
Dalam rubrik “Menuliskan Perasaan”, kami secara berkala menghadirkan kisah-kisah surat yang mewarnai kehidupan. Surat yang masih sering kamu baca kembali, balasan yang membuatmu tersenyum, atau kenangan tak terlupakan—silakan bagikan ceritamu di kolom komentar.
Kami berharap situs ini bisa menjadi tempat yang menenangkan bagi teman-teman Indonesia yang tinggal di Jepang.



コメント